Senin, 26 Desember 2011

Waiting for the End

Linkin Park

this is not the end
this is not the beginning,
just a voice like a riot
rocking every revision
but you listen to the tone
and the violet rhythm
though the words sound steady
something empty's within 'em

we say yeah!
with fists flying up in the air
like we're holding onto something
thats invisible there,
cuz we're living at the mercy of
the pain and the fear
until we dead it, forget it,
let it all dissapear.

waiting for the end to come
wishing i had strength to stand
this is not what i had planned
it's out of my control....

flying at the speed of light
thoughts we're spinning in my head
so many things were left unsaid
it's hard to let you go...

(oh!) i know what it takes to move on,
i know how it feels to lie,
all i wanna do
is trade this life for something new
holding on to what i haven't got

sitting in an empty room
trying to forget the past
this was never meant to last,
i wish it wasn't so...

(oh!) i know what it takes to move on,

i know how it feels to lie,
all i wanna do
is trade this life for something new
holding on to what i haven't got

what was left when that fire was gone?
i thought it felt right but that right was wrong
all caught up in the eye of the storm
and trying to figure out what it's like moving on
and i don't even know what kind of things i've said
my mouth kept moving and my mind went dead
so, picking up the pieces, now where to begin?
the hardest part of ending is starting again!!

all i wanna do
is trade this life for something new
holding on to what i haven't got...

this is not the end
this is not the beginning,
just a voice like a riot
rocking every revision
but you listen to the tone
and the violet rhythm
though the words sound steady
something empty's within 'em
(holding on to what i haven't got)

we say yeah!
with fists flying up in the air
like we're holding onto something
thats invisible there,
coz we're living at the mercy of
the pain and th fear
until we dead it, forget it,
let it all dissapear
(holding on to what i haven't got!)


Selasa, 20 Desember 2011

Kota Kecil, Pelaihari


Hari pertama pendaftaran di SMAN 1 Pelaihari dibuka sekitar jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Dengan tergesa-gesa aku datang sendirian tanpa orangtua maupun teman.
            Sekarang sedang banyak orang di sini. Mereka mengantri dengan orangtua masing-masing untuk mendapatkan kartu peserta tes masuk. Tetapi ada juga yang Cuma dengan segerombolan teman sebayanya.
            Awalnya aku bingung bagaimana caranya. Lalu ada seorang teman kenalan baruku member tahu tentang caranya. Pertama harus membeli map warna pink untuk perempuan dan hijau untuk laki-laki. Dalam map itu dimasukkan foto 4x3 4 lembar, foto copy akta kelahiran, foto copy ijazah/SKHU dan foto copy raport SMP. Kalau semua seah lengkap, siapkan dulu uang 50 ribu sebagai uang pendaftaran. Lalu mengantri berdesakan di depan sebuah ruangan pengambilan nomor peserta. Wuahhh… sangat panas udara di sini. Sebenarnya aku benci berpanas-panasan tapi nggak apalah kalu buat sekolah. Saat mengantri ini aku dan kenalan baruku tadi terpisah. Mungkin dia sudah masuk duluan. Yaa sudah, pikirku.
            Nggak sengaja mukaku menoleh ke segerombolan cowok yang agak jauh di belakangku. Sepertinya tadi ada yang melihat ke arahku. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Akupun kembali menghadap ke depan. Nggak berapa lama aku bisa masuk juga ke ruangan pengambilan nomor. Aku serahkan map warna pink yang sudah kupegang 2 jam yang lalu. Nggak lupa uang 50 ribu. Panitiapun memberiku nommor peserta dan selembar kertas informasi jadwal tes. Saat aku keluar ruangan ternyata antrian sudah agak longgar. Akupun berlalu dengan santai. Kulihat ada seorang peserta bersandar di tembok sambil melihat map hijau yang dibawanya. Kupikir, kenapa nggak mengantri di depan pintu? Saat aku lewat di depannya, dia melempar senyum padaku. Akupun membalas senyumnya sedikit terkejut. Waw..
            Di sini berbagai macam orang sudah kutemui. Bermacam-macam. Yahh.. aku kayak orang katrok. Maklumlah, aku berasal dari sekolah menengah khusus perempuan yang ada di luar Pelaihari. Aku murid pindahan Bandung. Ikut mamahku pindah ke sini.
            Hari ini barulah rasa hidupku seperti dimulai, di Kota Kecil, Pelaihari.

Kota Kecil, Pelaihari


Hari pertama pendaftaran di SMAN 1 Pelaihari dibuka sekitar jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Dengan tergesa-gesa aku datang sendirian tanpa orangtua maupun teman.
            Sekarang sedang banyak orang di sini. Mereka mengantri dengan orangtua masing-masing untuk mendapatkan kartu peserta tes masuk. Tetapi ada juga yang Cuma dengan segerombolan teman sebayanya.
            Awalnya aku bingung bagaimana caranya. Lalu ada seorang teman kenalan baruku member tahu tentang caranya. Pertama harus membeli map warna pink untuk perempuan dan hijau untuk laki-laki. Dalam map itu dimasukkan foto 4x3 4 lembar, foto copy akta kelahiran, foto copy ijazah/SKHU dan foto copy raport SMP. Kalau semua seah lengkap, siapkan dulu uang 50 ribu sebagai uang pendaftaran. Lalu mengantri berdesakan di depan sebuah ruangan pengambilan nomor peserta. Wuahhh… sangat panas udara di sini. Sebenarnya aku benci berpanas-panasan tapi nggak apalah kalu buat sekolah. Saat mengantri ini aku dan kenalan baruku tadi terpisah. Mungkin dia sudah masuk duluan. Yaa sudah, pikirku.
            Nggak sengaja mukaku menoleh ke segerombolan cowok yang agak jauh di belakangku. Sepertinya tadi ada yang melihat ke arahku. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Akupun kembali menghadap ke depan. Nggak berapa lama aku bisa masuk juga ke ruangan pengambilan nomor. Aku serahkan map warna pink yang sudah kupegang 2 jam yang lalu. Nggak lupa uang 50 ribu. Panitiapun memberiku nommor peserta dan selembar kertas informasi jadwal tes. Saat aku keluar ruangan ternyata antrian sudah agak longgar. Akupun berlalu dengan santai. Kulihat ada seorang peserta bersandar di tembok sambil melihat map hijau yang dibawanya. Kupikir, kenapa nggak mengantri di depan pintu? Saat aku lewat di depannya, dia melempar senyum padaku. Akupun membalas senyumnya sedikit terkejut. Waw..
            Di sini berbagai macam orang sudah kutemui. Bermacam-macam. Yahh.. aku kayak orang katrok. Maklumlah, aku berasal dari sekolah menengah khusus perempuan yang ada di luar Pelaihari. Aku murid pindahan Bandung. Ikut mamahku pindah ke sini.
            Hari ini barulah rasa hidupku seperti dimulai, di Kota Kecil, Pelaihari.

Senin, 19 Desember 2011

Papercut


Linkin park

why does it feel like night today?
something in here's not right today
why am i so uptight today?
paranoia's all i got left
i don't know what stressed me first
or how the pressure was fed/but
i know just what it feels like
to have a voice in the back of my head

it's like a face that i hold inside
a face that awakes when i close my eyes
a face that watches everytime i lie
a face that laughs every time i fall
(and watches everything)
so i know that when it's time to sink or swim
the face inside is here in me/right underneath my skin

it's like i'm/paranoid lookin' over my back
it's like a/whirlwind inside of my head
it's like i/can't stop what i'm hearing within
it's like the face inside is right beneath my skin

i know i've got a face in me
points out all the mistakes to me
you've got a face on the inside too and
your paranoia's probably worse
i don't know what set me off first but i know what i can't stand
everybody acts like the fact of the matter is
i can't add up to what you can
but everybody has a face that they hold inside
a face that awakes when i close my eyes
a face that watches everytime they lie
a face that laughs everytime they fall
(and watches everything)
so you know that when it's time to sink or swim
that the face inside is watching you too/right inside your skin

it's like i'm/paranoid lookin' over my back
it's like a/whirlwind, inside of my head
it's like i/can't stop, what i'm hearing within
it's like the face inside is right beneath your skin

it's like i'm/paranoid lookin' over my back
it's like a/whirlwind inside of my head
it's like i/can't stop what i'm hearing within
it's like the face inside is right beneath my skin

(the face inside is right beneath your skin)
(the face inside is right beneath your skin)
(the face inside is right beneath your skin)

the sun goes down
i feel the light betray me
the sun goes down
i feel the light betray me

(the sun)
it's like i'm/paranoid looking over my back
it's like a/whirlwind inside of my head
it's like i/can't stop what i'm hearing within
(i feel the light betray me)
it's like the face inside is right beneath your skin
(the sun)
it's like i'm/paranoid looking over my back
it's like a/whirlwind inside of my head
it's like i/can't stop what i'm hearing within
(i feel the light betray me)
it's like i/can't stop what i'm hearing within
it's like i/can't stop what i'm hearing within
it's like the face inside is right beneath my skin

Kamis, 03 November 2011

November 2010

November 2010




“Apa pelajaran saya kurang betul sehingga nilai kamu ini selalu merah?! Bagaimana nanti kata orangtuamu tahu?!! Tolong ikuti pelajaran dengan serius!” Gubrak!!! Pagi-pagi sudah dapat omelan dari guru bahasa indonesia, Pak Makmur.
“Iya, maafin saya, Pak.” Ucapku. Memang malas aku menanggapi serius.
“Kamu ini! Belajr benar-benar di rumah, jangan jadi anak malas.” Lanjut omelannya, “Lihat , ini hasil nilai ulangan kamu. Paling jelek dari 25 siswa di kelas ini.” Ujarnya lagi sambil menyodorkan kertas, kertas ulangan Bahasa Indonesia punyaku.
“25… wedew.” Benar responku selalu biasa-biasa saja walaupun sering dapat nilai merah,misal 15, 40, 45, dan paling tinggi 65. Hhaha…. Belum lagi pelajaran Bahasa Inggris, lebih parah, 0, 0, 0, 15. Hhaha… Tapi menurutku terlalu berat jika merenungi hasil nilai itu. Toh nanti ada remedialnya juga.
“Berapa lu?” tanya Deka, teman akrabku.
“Nih.” Kuperlihatkan nilaiku.
“Wadueh! Parah banget sih! Lo liatin nih nilai gue. Hhehe…” ujarnya mengejek sambil memaparkan hasil ulangannya, 80. Hmm..bagus pikirku.
“Iya iya, gue tau kok kalo lu pinter..” ucapku. Lalu aku lipat kecil-kecil kertas ulanganku.
“Dan hasil nilai ulangan sempurna pada saat ini kembali diraih Rengga Dwika Areland bagus pertahankan terus nak Rengga.” Semua mata pun tertuju pada Rengga, anak berkacamata itu. Heleh,, begitu saja bangga, pikirku.
“Tentu saja dia pintar, diakan punya empat mata.” Bisikku pada Deka yang duduk di depanku. Akupun tertawa sangat senang, tapi Deka hanya senyum saja. Itu nggak lucu ya? Dan kulihat Pak Makmur berjalan di samping tempat dudukku. Dalam hatiku berkata “iya pak, ue ngerti  kog harus diam. :P Lalu pelajaran pun berlangsung hikmat. Untukku, masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kanan lagi. Hhaha…

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

“Teng !!!!!!!!!!!” lonceng tanda habis satu mata pelajaran berbunyi.
“Akihrnya…” ujarku agak pelan. Takut kena marah lagi.
“Baik anak-anak, terima kasih sudah mengikuti pelajaran hari ini dengan baik.” Ucap Pak Makmur.
“Sama-sama, Pak.” Jawab beberapa murid. Aku sih diam saja karena aku bukan murid yang mengikuti pelajaran beliau dengan baik.
“Remedialnya akan  dilaksanakan pertemuan minggu depan. Tolong belajar dengan sungguh-sungguh, ya. Saya permisi dulu, wasalamu’alaikum wr.wb.” sambungnya sambil meninggalkan kelas dengan senyum ramah.
“Habis ini, Bahasa Inggris. Yeeyy!!!!!” ujar temanku yang satu ini, Saju. Katanya sih keturunan India, tapi lebih mirip orang Arab yang cantik. Hhahaha… dia sangat menyukai Bahasa Inggris, matematika juga. Dari TK kami berteman dan sekarang di kelas 2 SMA kami sudah saling anggap seperti keluarga, walaupun rumah kami berjauhan. Dan Deka, sahabatku sejak kelas 5 SD.
“Hhaha.. bener tu, Sa. Tapi Lu liat deh muka Radet, asem banget.” Ujar Deka sambil melihatku dengan tatapan mengejek. (Radet ^^ nama panggilan akrab dari Saju dan Deka.)
“Lu bedua sih enak, dijelasin dikit aja udah ngerti. Kalo gue, biar panjang lebar kayak tembok raksasa juga nggak bakalan ngerti.” Jawabku lempang.
“Gue ‘kan udah bilang, kalo mau pinter dating aja ke home gue, kita learning bareng. I’m ready to become your teachers. All subject teachers. Jujur gue males ke rumah lo karena jarak yang amat sangat jauh. Hhehe..” lagi Saju berkata.
“Huuhhhh.. gue juga males tau diajari ame lu.” Ujarku juga tak mau kalah mengejek. Lalu kami tertawa bersama.
“Sssssttt.. ne quiet, please!!!” ucap ketua kelas, temannya si pintar Rengga.
“Gue tau, kog.” Ucap Deka dengan gayanya yang agak tomboy sambil sedikit merapikan kursinya.
Tidak berapa lama, Mrs. Setia Rahani memasuki kelas kami. Dan menyerocos seperti biasa dengan Bahasa Inggris medoknya itu. Jujur saja tidak begitu aku mengerti. 100% harus memakai Bahasa Inggris, sullit banget pikirku. Jadi, aku hanya diam. And then… (eh, tu lu bisa Bahasa Inggris. Jawab: ya, little little I can)
“Adetra Sadira Shamerealqueen, how about your brain?! Your exam very very very bad! And this is repeat again!” Mrs. Setia says… (eh, emangnya boleh ngulang-ngulang kata dalam Bahasa Inggris??? Btw, kenapa nama gue bule buanggets?! Hmm.. mungkin ortu gue salah sebut waktu akikah n ngebuat akta lahir. Hhaha)
I’m very disappointed about that. You’re promise not got a bad score again. But look it, your score is very bad, you’re only.” Lanjutnya lagi. Hadueehhh, untung masih ngerti dikit. Dan kujawab..
“sorry, Mrs..”
Harus ditranslite
Mrs. :”Kamu ini tidak akan dapat maaf lagi. Sudah terlalu banyak kamu membuat nilai merah di buku nilai saya. Tidak bisa ditoleransi lagi. Mulai hari ini sampai besok kamu harus mendapat pelajaran tambahan.”
Radet :”Apa? Nggak salah ngomong , Mrs?”
Mrs. :”Tolong pakai Bahasa Inggris. Pulang sekolah kamu tetap di kelas dan Rengga tolong kamu berikan dia pelajaran tambahan Bahasa Inggris yang baik dan benar. Waktu kalian satu jam.
Radet: “Buset! Lama banget!”
Mrs.: “English please, Adetra!”
Radet: “Sorry, Mrs. Tapi kenapa Rengga sih, Mrs? Saju kan juga pintar Bahasa Inggris. Diajarin ama Saju aja deh, Mrs.”

Kamu

Ini kamu,
Tak terhingga bayangan kamu yang memenuhi hatiku
Tak terhitung sudah berapa banyak kusebut namamu dalam lelap
Tak tergoyah berdiri bayangmu di singgasana hatimu
Tapi bayanganmu
Hanya bayanganmu itu yang bisa kubayangkan
Tak tau lagi mungkin selamanya bayangan
Secercah kilau genggaman tangan yang hangat
Belum pernah aku rasakan