Selasa, 02 Juli 2013

Ordinary Nichijou desu !!!


Biodata Kepsek :
  Fardian Jerry Nugraha
  17 Juli 1990
  170 cm
  57 kg
  Memasak dan belajar
  Astronot
  Ngga pernah follow social media apapun #dgnkatalain:gaptek.x))
  Lahir dari keturunan darah biru ngga membuat dia sombong. Dipercaya jadi kepsek Miruku sejak umur 21, setelah kakeknya meninggal.
  Sifat : Agak kekanakan dan kurang dewasa tapi mampu mengambil keputusan dengan tepat dan memberi sanksi dengan tegas tanpa ragu. Bukan orang yang mudah dipengaruhi dengan kata lain berpendirian kuat.
  Kalo soal percintaan kaya’ny lebih gagap dari teknologi deh. Dia belum pernah pacaran sampai umur 23 ini, cuma pernah suka sama cewe sekelasnya waktu di SMA. Takut ditolak jadinya ngga nyatain perasaan
            #kkukuukuu :3
  Punya satu kakak cewe (30 tahun) dan satu adik cowo (16 tahun). Adik cowonya juga baru masuk Miruku lo..hhihhii

#suka-sukagueiniygbikinceritanya.-,-kkekekee

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Hari pertama di Miruku rasanya lumayan juga. Bertemu orang-orang yang begitu disiplin, seperti Resha yang ngga banyak perotes.
“Wajib ikut ekskul yah..” sebut Resha.
“Mau ikut ekskul apa kalian ?” tanyaku sambil menyedot jus kacang hijau, bersantai menikmati jam istirahat yang begitu lama ini, 30 menit.
“Gue kayaknya basket.” jawab Indra.
“Aku…mungkin ikut klub desain.” jawabnya tersenyum. Manis sekali.
“Lo sendiri gimana, Ar?”
“Gue males ikut ekskul. Wkwkwkkk.” aku menoleh, ternyata kepsek berdiri di belakangku tiba-tiba. Berhenti langsung aku menyeruput minumanku.
Dia menepuk pundakku.
“Ngga minat ikut ekskul ?”
Aku gemetaran tapi ku jawab saja, “i..iya, pak.”
Beliau duduk bergabung dengan kami. Tepat di depanku, di samping Resha.
“Dilarang keras buat murid di sini kalo ngga ikut kegiatan apapun.” ujar kepsek. Aku melihat seksama wajahnya yang seperti serius itu. Indra menyenggol kaki ku di bawah meja. Resha juga senyum ke arahku. “Kalau kamu ngga minat ikut ekskul maka..” sambil menyeringai padaku. “Kalian akan dipekerjakan. Hahahaaa.” katanya santai sekali, kali ini dia mulai main-main sepertinya.
“Kerja, Pak ? Bukannya kalo yang sudah kelas dua baru boleh kerja ?” tanya Resha begitu penasaran.                 
“Yaa…daripada ngga ada yang dikerjain.”
“Memangnya kerjaannya apa, Pak ?” tanya Indra yang juga penasaran.
“Ngejagain tikus.” dengan muka serius. Kami saling berpandangan. “Hahahaa……ngga ngga. Kerjanya paling cuma ngetik atau ngejagain telpon.” Aku mengangguk-angguk. “Tapi kalo yang buat kelas dua kerjanya diberatin sih.”
“Apa waktu belajarnya ngga ke ganggu?” tanyaku.
“Tergantung mereka bisa ngatur waktu apa ngga.”
“Kayanya mending ikut ekskul, deh.” kataku pelan. Kepsek menatapku lagi.
“Tapi kalo kerja dapat duit lo. Eh..tapi jangan bilang-bilang yang lain nih. Anak kelas satu emang diwajibin ikut ekskul dan belum boleh kerja. Saya nawarin kerja cuma ama kalian.” katanya berbisik-bisik. Kami berempat jadi saling bertatapan dan jadi tertawa.
Gimana sih, ini kepsek ngga konsisten banget. Mungkin itulah yang ada dipikiran kami sekarang.
“Ya sudah. Kalian belajar bener-bener yah. Santai aja tapi jangan main-main.” diapun berdiri beranjak pergi. Dari belakang beneran keliatan kaya anak SMA loh. Pakaiannya yang begitu santai dan sepatu kets yang dipakainya. Apa dia serius menjalani perannya sebagai kepala sekolah ?

Gimana Ar, sekolah barumu ?” tanya kakaku saat makan malam.
“Lumayan.”
“Udah ketemu kepseknya ?”
“Seberapa populer sih mba itu kepsek ?” pertanyaanku jadi menyimpang.
“Aku juga belum pernah ngeliat orangnya. Hahahaaa.”
“Loh.”
“Kan aku lulus sebelum dia menjabat di Miruku.” katanya lalu minum. “Denger-denger sih kepseknya belum kawin yah..”
“Katanya sih baru umur 23.”
“Tuh kan lebih muda dari aku.”
“Emang umur mba berapa?”
“Jahh. Umur kaka sendiri ngga tau kamu.” katanya sambil mengupas jeruk.
“Maklum lah. Ademu ini kan kena Alzheimer kadang-kadang. Hahaa.”
“Bulan Agustus ini udah 24.”
“Kapan jadinya mba nikahan ?kkekekee”
“Bentar lagi kok. :P”
“Bagus deh.”
“Ar…” seseorang memanggilku dari kejauhan. Dia berlari menghampiriku. Resha ternyata.
“Ngga di antar-jemput kamu ?” dia agak ngos-ngosan.
“Hhhh……rumah aku kan di dekat sini aja.” katanya menunjuk ke jalan di belakang.
Kami berjalan menuju gerbang sekolah yang kira-kira masih 50 meter lagi. #wadaww
“Kamu udah mutusin mau ikut ekskul apa ?”
“Kayanya voli aja deh.”
“Kenapa ?”
“Supaya bisa sering-sering ke pantai…hahaa.”
“Emangnya ke pantai ?”
“Ngga tau deng. Wkwkk.” dia jadi tertawa juga. Aku terkejut melihat kepsek yang sedang mondar-mandir di depan gerbang. Pagi-pagi gini dia udah ada di sekolah?
“Ada kepsek.” Bisik Resha. Aku mengangguk-angguk.
“Pagi, Pak.” sapa Resha dengan senyumannya.
“Pagi juga.” dia melirikku.
“Lagi nungguin siapa, Pak ?”
“Kalian lah..” ujarnya menepuk pundakku. Kami berdua jadi bingung. Baru hari kedua sekolah kepsek sudah seperti begitu mengawasi kami.
“Sudah bikin tanda pengenal ?” aku menatap bingung ke Resha.
“Udah, Pak. Ini..” kata Resha menunjukkan bordiran nama di bagian lengan kanan seragam cardigannya.
“Bagus. Kamu ?” tanyanya padaku. Aku memeriksa baju lengan kananku.
“Kayanya belum, Pak.” dia ikutan melihat.
“Buruan bikin.”
“Baik, Pak.” kataku spontan. Aneh sekali, kata-katanya begitu jauh mampu mengendalikanku.
“Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya tanyakan.”
Aku dan Resha saling menatap bingung. Apa lagi nih?
“Begini…sebenarnya adik saya juga baru masuk sama dengan kalian. Tapi sayangnya kalian ngga sekelas.” dia memandang kami serius. “Dia sulit berteman dengan orang lain. Saya berharap kalian bisa menjadi temannya.” katanya.
“Tapi kami kan ngga kenal sama dia, Pak.”
“Benar juga.” ujarnya sedikit berpikir. Murid-murid lain mulai berdatangan sedikit melirik ke arah kami.   “Memangnya dia kelas berapa, ya ?” tanya Resha lagi.
“Kelas X-C3, namanya Fajar Rafiqi.” jawabnya sambil tersenyum  pada murid lain yang menyapanya. “Tapi rahasiakan sama yang lain ya kalo dia adik saya. Dia ngga suka kalo orang-orang tau saya ini kakanya. -,-” kakak yang tak dianggap.fufufu~ “Ya sudah. Cepat sana kalian masuk kelas.”
Kami mengangguk-angguk lalu berlari kecil. Masih agak bingung, aku kira muka Resha pun begitu. Adiknya kepsek, ya…

“Daritadi gue perhatiin muka lo agak beda, Ar.” ucap Indra saat kami berjalan pulang sekolah bersama dengan Resha juga.
“Tambah ganteng ?”
“Jahh. Tambah burem. Hahaa.” katanya memukul-mukul tasku.
“Ish..” seringaiku. Resha melihatku seperti memberi signal lalu dia tersenyum. “Gini, In. kita dapat amanah dari kepsek supaya temenan sama adenya yang juga baru masuk di sini.”
“Hah ? Ade kepsek ? Cewe yah ?”
“Cowo.” sahut Resha.
“Kalo cowo kan bisa cari teman sendiri.” ujarnya memandang ke depan. Aku dan Resha saling menatap bingung harus bicara apa.
“Kita juga belum ketemu orangnya kok.” tambah Resha.
“Satu kelas ama kita, ya?”
“Ngga dia kelas sebelah.”
“D4 ?”
“C3.”
“Terus apa masalahnya sampe-sampe muka lo burem gitu, Ar.”
“Ngga ada sih. Cuma gue bingung aja kenapa kepsek nyuruh kita ya ?”
Indra menoleh padaku, “Kita ?? Elo aja kalii wkwkkk.”

Minggu, 30 Juni 2013

Ordinary Nichijou desu !!



  Miruku Senior High School is a private school that the student wear cardigan sweater for their uniform. Isn’t very ordinary ?? #ckckkk
            There are one hundred student in every sub class(?). Don’t u understand ? I want to say that I DON’T UNDERSTAND TO !!!!!!
#yudhgantipakebahasaindonesiaajjah,u.u


  Sebuah sekolah swasta yang hanya di huni 300 orang dari 15 kelas, 5 kelas untuk masing-masing kelas X, kelas XI, dan kelas XII.
            Walaupun muridnya sedikit tetapi siswa-siswi disini bukanlah orang sembarangan. Mereka diseleksi berdasarkan kebiasaan hidupnya. Nggak ada yang berkuku panjang disini, nggak ada yang buang sampah sembarangan, dan nggak ada yang telat ke sekolah.
            Mereka begitu bukan berarti takut dengan peraturan disini melainkan itulah yang biasa mereka lakukan di kehidupan sehari-hari. Jadi tanpa dibuatkan peraturan pun mereka sadar diri.
            Sekolah swasta identik dengan keturunan elit bermobil mewah. Tapi bukan disini. Dari kalangan biasa pun bisa masuk ke sekolah ini.
Mereka yang merasa kekurangan biaya untuk memenuhi keperluannya selama bersekolah disini akan dipekerjakan di sebuah perusahaan swasta yang memang khusus dibentuk untuk anak-anak berprestasi kurang mampu. Istilahnya magang lah kalo di SMA Kejuruan. Pendiri perusahaan itulah pemilik Miruku ini. Beliau telah meninggal dunia dan sekarang digantikan oleh buyut laki-lakinya yang masih berumur 23 tahun. #jahh-.-’
            Awalnya si pendiri memang menuliskan beberapa peraturan untuk sekolah ini. Namun saat hampir meninggal, setelah 30 tahun mendirikan sekolah ini, dia baru sadar bahwa peraturan itu dibuat hanya untuk dilanggar jadi dia menghapus beberapa peraturan keras yang dibuatnya. Tersisalah peraturan-peraturan di bawah ini:
1. Seragam sekolah yang dipakai terbuat dari cardigan (baju)      dan drill (celana)
            Bagi anak cowo: o) celana panjang berwarna hitam keabu-abuan
                                        o) baju berwarna putih lengan panjang (model bebas)
  Bagi anak cewe: o) rok berwarna putih dengan motif 2 garis berwarna sesuai tingkatkan kelas. Model ditentukan sekolah.
                                        o) baju berwarna hitam keabu-abuan lengan panjang model bebas
2. Sepatu
            Hanya dibolehkan memakai sepatu berwarna hitam atau putih.
            Untuk cewe dilarang keras memakai sepatu balet. #cwakwkwkkk
3. Tas
            Hanya dibolehkan memakai tas berwarna hitam atau putih. Jika bermotif maka motifnya dilarang keras yang berwarna kecuali hitam atau putih.
4. Perhiasan
            Hanya dibolehkan memakai jam tangan yang terbuat dari karet. Dilarang keras untuk yang berwarna selain hitam atau putih.
5. Dilarang keras membawa majalah, handphone, kalkulator, laptop, pc, televisi, ipad, dan sejenisnya. #pc?tv?gmncarabawa’ny-,-
6. Dilarang keras merokok, minum-minuman keras atau memakai narkoba dan sejenisnya di lingkungan sekolah, berlaku untuk guru maupun murid. Khususnya bagi siswa-siswi yang ketahuan merokok, minum-minuman keras atau memakai narkoba dan sejenisnya di dalam maupun di luar lingkungan sekolah akan langsung dikeluarkan dengan tidak hormat. #-o-hohoo
7. Hanya memakai buku dan alat tulis yang disediakan oleh sekolah.
8. Dilarang keras untuk berpacaran baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Jika ketahuan maka akan langsung dikeluarkan dengan tidak hormat. #kkekekee-,-

Prolog
  “Putihhh ?!”
            “Nggak salah nih mba ? Kok cowo sih yang bajunya putih ?” tanya Arsy pada kakanya, tamatan SMA Miruku.
            “Ya emang gitu peraturannya.”
            “Apa nggak cepat kotor ?”
            “Mangkanya…belajar supaya jangan jorokk !”
            “Ishk.” Arsy Pragiyo, murid smp yang baru lulus dan berencana mendaftar di SMA Miruku. “tapi kenapa gitu ya, mba?”
            “Supaya ngebuang sifat jorok anak cowo kali. Kalii hhehee”
            Sambil berbaring iya memikirkan SMA Mikuru yang disebut-sebut sebagai SMA favorit.
            “Pasti bangga deh kalo bisa masuk situ.” pikirnya.
            Memang, kakanya sendiri alumni dari sana. Setelah tamat langsung diterima bekerja di sebuah bank swasta.
            “Persyaratannya susah juga.” pikirnya lagi.
            Diapun memejamkan mata.
            Keesokan harinya iya memantapkan diri. Memutuskan buat daftar di SMA Miruku. Beberapa teman ternyata juga berminat ke sana.
                         
   “Hope we luck today.” aku mendengar suara lembut dari gadis kecil di belakangku.
            “Putihh !” batinku menatap wajahnya yang begitu putih bersih.
            “We’re you from?” tanyaku membuka obrolan. Matanya begitu hitam dan besar.
            “Aku dari dekat sini kok.” katanya tersenyum. Aku jadi agak malu. Ku kira dia dari Jepang. Hahaa
            “Sudah baca peraturan di sini?”
            “Sudah. Peraturannya bagus.” Katanya dengan muka polos.
            “Apanya yang bagus?” cela pikiranku.
            Dia tersenyum lalu berpaling ke depan menerobos di kerumunan orang yang juga mendaftar hari ini.
            “Duh. Lupa tanya namanya.”

Tes tulis sudah dilalui dan ada 227 orang yang lolos. Masih ada tes kesehatan dan wawancara lagi untuk menyaring hingga tinggal 100 orang. Katanya 60 cewe dan 40 cowo.               
            “Ar gimana lo, yakin masuk ngga ?” tanya temanku yang juga lolos tes tulis.
            “Ngga yakin.”
            “Gue juga nih. Mana ada tes wawancara lagi. Bahasa Inggris gue kan jelek.” katanya pesimis.
            “Emang tes wawancaranya pake b.inggris ?”
            “Belum tau sih.”
            “Kalo gue lebih khawatir ama tes kesehatannya nih. Gue kan agak jorok. Kata kaka gue sih.”
            “Bener tuh kata kaka lo. Ckckckkkk. Lo ingat ngga waktu sd kita pernah balap lari ama Indra, Vino.”
            “Waktu ngga bisa ngerem terus keinjak e* sapi ?”
            “jyahahahhaaa. Terus sepatu lo pernah juga kan kecebur ke selokan tapi ngga lo cuci-cuci sampe satu minggu. Terus lo juga jarang gosok gigi malam kan ? Wkwkwkkk.”
            “itu kan dulu waktu SD. Pas SMP gue udah tobat Din. Gue di hajar ama kaka gue kalo ngga mau gosok gigi malam. -,-”
                         
“Din, gue keterima. Lo gimana ?”
            “BAD ! Gue gagal, Ar. Hiks.”
            “Don’t worry be happy, Badin.” sambil ngelus pundaknya.
            “Selamat ya, Ar. Gue kualat ama lo nih. T.T”
            “Tenang Din. Gue bantuin elu deh ngedaftar di SMA sebelah.”
            “Ish..ngejek gue, lu ??” katanya sambil tertawa tapi keliatan sedikit kecewa.
            “Yaa mungkin rejeki lo di sana. Hahaa.” kataku coba menghiburnya.
            “Gimana yang lain, ya ?”
                       
            Kami berkeliling di gerombolan orang  ini yang beberapanya adalah calon teman satu sekolah baruku, SMA Miruku. Disudut aula aku lihat Indra sedang tertawa girang bersama seorang temannya.
            “Tu Indra.”
            “Ama siapa tuh? Pacarnya?”
            “Ah nggak mungkin lah. Ke situ yuk, Din.”
            “Ok.”

  “In, gimana lo ?” tanya Badin.
            “Gue lulus. Elo berdua ?” ujar Indra, temannya yang cewe ini tersenyum juga menatap kami.
            “Gue gagal In.” sambil mengarahkan mukanya padaku.
            “Gue masuk.” kataku tertawa ke mereka.
            “Aku juga.” kata temannya si Indra ini. Kami bertiga tertawa ke arahnya.
            “Loh kayanya pernah ketemu.” ucapku, mengamati mukanya. “Elo yang ngomong ‘hope we….”
            “Luck today.” sambungnya sambil terus tersenyum.
            “Kenalin, gue Badin. Temannya mereka juga.”
            “Resha.” katanya tersenyum lagi. Emang murah senyum ni orang, pikirku.
            “Din, lo kayanya harus buru-buru deh daftar di SMA sebelah. Soalnya tinggal 2 hari lagi pendaftarannya di tutup.”
            “Ngga deh.”
            “Loh, jangan putus asa gitu dong Din.” ucapku yang agak terkejut mendengarnya.
            “Putus asa apaan. Rencana gue gini, kalo ngga keterima di Miruku gue langsung daftar ke luar kota.”
  “Udah daftar?”
            “Iya lah. Gue ke sana tinggal tes.”
            “Kalo ngga keterima?”
            “Pasti keterima…kepala sekolahnya kan Om gue. Whaahahhhaaaaaa.”
            “Wuihhhhhhh.” aku dan Indra menepuk-nepuk pundaknya. Selama berteman ama dia aku ngga pernah tau kalo dia keluarga orang kaya.
            “Good luck deh buat kamu.” ucap Resha dengan senyumnya itu lagi. Jadi pengen ikut senyum juga.

Ini nih hari yang palin ditunggu-tunggu oleh kebanyakan siswa baru, upacara penerimaan. Baru pertama kali ini kepala sekolah akan memunculkan batang hidungnya.
            “Kepsek kita katanya masih muda lo..” kata cewe yang berdiri dua jarak di sampingku kepada temannya.
            “He em… kata Mas ku kepsek juga baik.”
            Baik? Masa sih? Cela batinku.
            Jeng jeeeeeng.ternyata benar, kepseknya kaya seumuran anak kelas XII. Gaya bicaranya juga sangat ngga formal. Gimana bisa ini jadi sekolah favorit ??! Berontak batinku.
            “Seumuran.” kataku pada teman sebelah ngga tahu namanya.
            Dia cuma tertawa sambil membenarkan rambutnya.
            “Tapi di balik muka yang polos itu, beliau dikenal tegas loh kalo ngasih hukuman.” sambung teman di belakangku. Kami berdua jadi menatapnya. Kepsek memperhatikan kami.
            Deg !
            Langsung kami tertunduk dan menghentikan pembicaraan kami. Beliaupun lanjut berpidato sambil ketawa ngga jelas. #jahh-__-

  “Satu kelas 20 orang ?????” pertanyaanku membuat perhatian.
            “Sstt. Keras banget si.” sela Indra.
            “20 orang itu baguskan. Jadi bisa maksimal ngajarinnya.” kata Resha. Ternyata kami satu kelas dan sekarang kami sedang melihat pengumuman pembagian kelasnya.
            “Kalo udah keterima harus siap menanggung resikonya.” ujar kepsek yang lewat di samping kami sambil menyipitkan matanya ke arahku. Jadi ngga bisa ngomong apa-apa lagi. Murid lain pun terdiam memandang ke arahnya. Dia menatap kami satu per satu. “Rubah kebiasaan buruk kalian jika ada. Kalo ngga bisa berubah juga…saya yang akan buat kalian merubah kebiasaan ituu. Hahahaaaa.” katanya sambil terus berjalan ke ruangannya dan kami tak berkedip mendengar kata-katanya. Dia ini sih cocoknya di jadiin kaka gue, ucap kepalaku.
            “Kita cari kelasnya, yuk.” kata Resha seolah mengetuk kami semua. Kami berjalan dan murid-murid lain ikutan bubar.

to be continued...wkwkkk
                       

Minggu, 17 Juni 2012

Eng ing eeeeeng p2


Sampai pulang sekolah pun Gita tetap menasehati sahabatnya yang sedang galau itu. Gita merasa pengorbanan Bimo selama ini sudah sangat full hanya untuk seorang Winda yang tidak bersyukur sudah dicintai Bimo. Gita saja sempat merasa iri.

Gila! Kenapa coba cowo sebaik dan seganteng Bimo bisa suka sama seorang Winda? Cinta cinta… emang buta. Winda yang selalu datang telat, suka berimajinasi yang aneh-aneh, jarang mandi, makan minum sembarangan. Pokoknya serba sembarangan. Huh…

Setelah seminggu mereka putusan, Bimo ngesms Gita.
“Git, gue beneran sayang sama Winda. Gue ga bisa hidup tanpa dia. Cuma dia yang gue sayang Git. Git, please bantuin gue buat balikan sama Winda. Please Git…”
“Terus gue harus bilang iya gitu?”
“Ya iyalah. Lo temen Gita, lo temen gue juga.”
“Sejak kapan kita temenan?”

Sementara itu, Edo, salah seorang sahabat Bimo mulai mendekat-dekat dengan Winda. Coba membujuknya agar mau balikan lagi dengan Bimo.
Seorang teman mantan pacarnya sekarang duduk di depannya untuk membicarakan hal yang sepele menurut Winda. Winda menatapnya dingin.
“Win, lo kenal gue kan?”
“Ga.”
“Cowo paling popular, gue kan anak basket.”
Tatapan Winda makin dingin sambil mengaduk gelas jus melonnya.
“Win, lo tau Bimo kan?”
“Tau.”
“Cowo paling romantis di sekolah.”
“Biasa aja.”
“Kapten basket.”
“Terus?”
“Win, lo tau ga? …”
“Gue ga mau tau.” Winda yang mulai kesal coba meninggalkan Edo di kantin itu.

18092011620.jpg“Kenapa lo, Win?” Tanya Gita melihat sahabatnya masuk ke kelas dengan muka dinginnya.
“Gue ketemu hantu sekolah.” Menengok ke sahabatnya.
“Edo?”
“Ko tau.”
“Ha hah… Cuma nebak aja sihh.” Kata Gita. “Dia ngomong apa aja sama lo?”
“Udah lupa.” Tertawa ke sahabatnya.
“Iiihhh, gaje deh!” balas tawa.

Sedetik demi detik. Sehari demi hari. Hati Winda mulai terbuka untuk menerima kehadiran Bimo di waktu-waktunya. Tanpa menyerah Bimo terus mendekati walau harus banyak berkorban. Dia sama sekali tidak peduli. Asalkan bisa bersama Winda. Membalas senyum Bimo, membalas sms Bimo, dan membalas obrolan Bimo yang garing ditambah kacang-kacang Edo. Untung ada Gita yang menolongnya dengan coklat caramel lembut ditambah wafer renyah. (#BengBengpinanya==’) Akhirnya mereka berempat pun mulai akrab dan saling curhat menyurhat bertukar pikiran.

“Eh lo pada tau ga?”
Gita, Winda, Bimo, melihat ke Edo.
“Apaan?”
“Ada yang CLBK nihh.”
“Ishh.” Ringis Bimo.
“O ya?” Tanya Gita sambil memandang sahabatnya. “Dari kapan? Kok elo ga ada cerita sih Win?” Winda yang ditanya cuma senyum-senyum santai.
“Ehemmm.” Dehem Bimo. “Gue ga nyangka Winda mau nerima gue lagi.” Menatap Winda.
“Yahh, sebenarnya gue masih coba-coba aja dulu.” Sahut Winda dengan muka bercanda.
“Whatt?!”
“Ehehe… ya ga lah.” Tambah Winda, setelah dua bulan ini gue ngerasa ada sesuatu yang beda kalo ngeliat Bimo.” Gita dan Edo saling bertatapan.
“Lo serius Win?” Gita coba meyakinkan.
“Lo ga pura-pura kan Win?” Edo menambahi.
“Tanya aja ke Bimo.”
“Gue sih yakin-yakin aja.” Mereka saling tertawa.

120120122237.jpgTapi sebenarnya dalam hati Winda masih ada keraguan. Sama juga dengan Bimo. Sebenarnya mereka benar-benar saling suka atau cuma mencoba-coba untuk suka?

Hari ini Sabtu. Malam ini Minggu. Jalan-jalan…
Bimo pun mengirimi sms ke Winda.
“Win, jalan yuk.”
“Kemana?”
“Yaaa kemana aja. Yang penting sama elo.”
“:s”
“He he, lo mau ga?”
“Tapi kemana dulu?”
“Makan.”
“Tadi lo ngajak jalan, ini malah bilang makan.==”
“Maksud gue makan dulu baru jalan.”
“O ya?”
“Iya lahhh.”
“Ok.”
“Ok? Lo serius mau Win?”
“Ga.”
“Tu kan.”
“Iya iya gue mau. He he.”
“Nah gitu dong. Itu baru namanya bidadari gue.”
“:P”
“Love you.”

Mereka pun jalan berdua. Keliling-keliling taman. Makan-makan. Keliling-keliling taman lagi sambil makan es krim. Saling bercanda dan bercerita. Lalu duduk-duduk di suatu ayunan.

“Win,lo liat deh bintang di langit.” Menengok ke atas.
“Gue ga bisa liat.” Menoleh Bimo ke Winda. “Bohong dehh.”
“Ihh gaje banget sii.” Sambil mengusap-usap kepala Winda.
Mereka saling bertatapan. “Deg” dalam hati Winda.
“Kenapa lo?”
“Ga apa-apa ko.” Berhenti bertatapan.
“Win, sebenarnya lo sayang ga sih sama gue?” Menatap Bimo.
16082011104.jpg
“Gue suka sama lo.” Jawab Winda.
“Gita bilang dulu lo ga suka banget sama gue.”
“Gita bilang gitu?” Melihat ke langit. “Itu kan dulu sekarang udah beda.”
“Tapi gue yakin sekarang lo ga pura-pura lagi.”
“Dari dulu gue ga pernah berusaha pura-pura. Cuma mungkin lo ngerasa pura-pura.” Jawab Gita. “Itu pertama kalinya gue ditembak langsung sama cowo dan cowo yang ga gue kenal. Gue salut sama lo dan gue kira gue bisa ngebales cinta lo jadi gue nerima.” Bimo memperhatikannya benar-benar. “Ternyata setelah sebulan gue ga bisa. Perasaan gue tetap datar.”
“Terus, kenapa sekarang lo mau nerima gue?”
“Karena… gue udah ngerasa sesuatu.” Saling bertatapan. “Hati gue sesek waktu ngeliat lo deket sama Gita. Kalian sering ketawa bareng. Sering smsan, curhat-curhatan. Padahal lo bilang dulu lo ga bisa hidup tanpa gue.”
“Gue sering curhat ke Gita tentang elo. Karena dia teman lo yang paling deket.”
“Yaaa, gue tau. Lo ngajak gue balikan lagi juga gara-gara disuruh Gita kan?”
“Ko tau.”
“Ya iyalah. Semua hal gue tau.”
“Gaje.”
Mereka tertawa bersama terlarut dengan waktu terbawa bulan bintang di langit malam yang kesepian.